dotcomwebdesign.com
Pegasus Dan Gadis Suci Kita
 
 

Pegasus Dan Gadis Suci Kita

Ketika Seren terlibat konflik dengan Jonathan sehingga ia menampar pria itu, Rena malah sedang jatuh cinta pada seorang mahasiswanya.
Seren mengangkat sebelah alisnya, menunggu Jonathan memberi reaksi. Mereka sedang berada di studionya untuk mulai melukis, di Minggu pagi yang cerah ini.
Jonathan berdiri di ambang pintu, memandangi lukisan-lukisan Seren.
“Ada apa?”
Jonathan menggeleng. Matanya menatap Seren lekat-lekat. Ia diam selama beberapa saat, baru kemudian ia berkata, “Kau benar-benar bisa melukis!” Setelah itu, mereka menghabiskan waktu seharian di studio.
Malam mulai merayap turun ketika akhirnya Seren mengatakan, “Oke. ”
Oke? Jadi sekarang aku sudah bebas?”
“Kau bicara seperti tawanan saja!” Seren tertawa.
“Ini akan menjadi salah satu lukisan untuk pameranku. Lukisan kedua puluh tujuh-ku. ”
Mereka sudah berada di pintu depan dan Jonathan bersiap-siap untuk pergi. Mereka bertukar pandang selama beberapa detik. Wajah Jonathan terlihat serius dan Seren bagai tersihir olehnya. Perlahan, tangan Jonathan terangkat dan mengusap wajah Seren dengan lembut. Sentuhan itu. . . . Keduanya sama-sama terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba. Jonathan terlihat amat sangat gugup.
Hmm, ada cat di wajahmu,” katanya, salah tingkah.
Seren mengusap wajahnya. Baru disadarinya kemudian, tangannya sendiri belum bersih dari cat. Nah, wajahnya pasti benar-benar kotor sekarang! Keduanya saling pandang dan tertawa terbahak-bahak. Konyol sekali!
“Baiklah, aku pulang dulu. Selamat malam. ”
“Malam,” Seren menjawab lembut.
Jonathan masuk ke dalam mobilnya. Seren melambaikan tangannya. Bibirnya tersenyum. Cinta mewarnai matanya.
Gadis Suci
Rena menatap kertas di hadapannya. Pegasus dan Gadis Suci, sebuah puisi cinta, telah ia tulis. Ada beberapa coretan yang menjadi bukti kecamuk jiwanya. Kata-kata yang dirangkai terasa pekat oleh kerinduan. Ia adalah pungguk yang merindukan rembulan. Puisi ini adalah ungkapan perasaannya yang tiada bersambut, namun tiada kuasa ditahannya.

Ketika pegasus mengepakkan sayapnya
Membawa gadis suci menggenggam langit
Tiada lagi pekat dan gelap
Yang murni hanya indah cahaya

Rena memejamkan matanya. Ketika kau dan aku. . . satu. . . .
Apakah akan tiba saatnya ia dapat bersatu dengan Jonathan? Tidak! Tidak mungkin! Rena membaca lagi setiap untaian kata yang merupakan bentuk pengakuan cintanya. Ia adalah Si Gadis Suci, sedangkan Jonathan adalah Sang Pegasus!
Jika Jonathan sampai melihat puisi ini, apakah ia menyadari jika bait yang tersusun penuh cinta itu ditujukan kepadanya? Ah, kecil kemungkinannya! Rena memasukkan kertas itu ke dalam laci. Perasaan ini adalah miliknya, dan ia tidak ingin siapa pun tahu! Biarlah ia tetap menjadi pungguk yang merindu, daripada ia harus kehilangan sang rembulan sama sekali!
Dan, seiring pekatnya malam, angin berembus lebih kencang. Kesunyian terasa mencekam. Perlahan-lahan, bagaikan ditarik oleh tangan yang tak terlihat, laci tempat Rena menyimpan puisinya bergerak, terbuka sendiri! Kertas yang berisi puisinya perlahan-lahan melayang. Seakan ada angin yang melintas, kertas itu terbang di udara, melewati Rena yang pulas, dan bergerak mendekati lukisan Unicorn di Suatu Senja yang tergantung di dinding.
Dengan amat perlahan, kertas itu lalu menempel pada lukisan tersebut, layaknya ditarik gelombang magnet yang sangat kuat. Setelah menempel seluruhnya, kertas puisi itu menghilang!
Pegasus dan Gadis Suci menghilang, tertarik masuk ke dalam lukisan! Setelah itu, suasana kembali senyap. Laci yang tadi terbuka telah menutup sendiri. Yang tampak hanyalah Rena yang masih tertidur nyenyak. Keadaan kamar kembali seperti semula, seakan-akan tidak ada yang berubah. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
PEGASUS
Seren duduk di lobi gedung sambil menunggu Jonathan yang segera turun dari kantornya. Mereka janji makan siang bersama di restoran yang ada di seberang jalan. Seren tersenyum. Hubungan mereka berjalan seperti yang diimpikannya.
AKU CINTA PADAMU
Terucap sudah tiga kata itu. Seren melihat pada bayangan wajahnya di cermin. Senyum tersungging di bibirnya. Perlahan, Seren mengusap bibirnya yang tadi dikecup Jonathan. Matanya berbinar karena cinta.
“Aku mencintaimu,” ulang Seren. Kali ini, ia ingin meneriakkannya, dan membiarkan perasaan bahagianya membubung seperti pada saat kali pertama ia mendengarnya dari mulut Jonathan.
Seren membaringkan tubuhnya. Ia membiarkan lamunan membawanya ke awang-awang. Kemudian, ia menggerakkan tubuhnya sedikit. Terdengar suara gemerisik di bawahnya. Seren baru menyadari ia telah meniduri sesuatu. Ia lalu duduk dan memeriksa. Sehelai kertas yang terlipat lecek tergeletak di bawahnya. Seren mengernyitkan dahinya. Bagaimana kertas itu ada di tempat tidurnya?
Seren mengambil kertas itu dan membaca isinya. Matanya melebar. Pegasus dan Gadis Suci. Ini kan sebuah. . . puisi?
Kerutan di dahi Seren makin dalam. Ia tidak pernah ingat telah menulis puisi! Aneh, seakan-akan puisi ini muncul begitu saja. Plop, dan . . . inilah dia!
Mata Seren menelusuri setiap kata. Ia membaca setiap baris dan bait.
Aroma malam pekat gelap
Mengitari jiwa-jiwa kalut
Melingkupi jiwa-jiwa sunyi
Sendiri dan takut.

Malam pekat gelap. Seren merasakan kekosongan dan rasa sepi yang terasa mencekik. Sendiri. Sunyi.


Rembulan pun enggan berkaca
Pada awan kelabu nan sendu
Hati sang gadis suci terpecah belah
Kala sepi mendekap rindu

Sang gadis suci. Seraut wajah muncul di dalam pikiran Seren. Gadis yang mirip dengannya yang ia lihat dalam mimpi.
Wahai pegasus, di manakah engkau?
Kuingin menggapai
Tersayat pilu jiwa raga
Hanya tuk mengenyam angkasa

Seren tercenung. Ini adalah jeritan hati seorang gadis yang rindu akan kekasihnya. Tersayat pilu jiwa raga. Kasih tak sampaikah?
Gadis suci memanggil cahaya
Putih, perak menguak udara
Ketika langit kelam pecah
Berkas sinar muncul seakan merasa

Sang gadis suci memanggil cahaya. Apa maksudnya dengan cahaya?
Wahai gadis suci, pujaan jiwa
Engkaukah pelipur lara
Membentangkan tangan meruntuhkan pekat
Memanggil jiwaku yang terpendam

Ini jawaban dari panggilan itu! Siapakah yang dipanggil olehnya?
Ketika pegasus mengepakkan sayapnya
Gadis suci merekah menebar asa

Pegasus. Seren terpaku. Gadis suci memanggil pegasus!
Ketika pegasus mengepakkan sayapnya
Menyongsong gadis suci melanglang angkasa

Ini. . . ungkapan perasaan cinta! Perasaan indah yang terwujud ketika pegasus dan gadis suci bersama-sama! Seren terpesona.
Ketika pegasus mengepakkan sayapnya
Membawa gadis suci menggenggam langit
Tiada lagi pekat dan gelap
Yang murni hanya indah cahaya.

Di bawahnya, tampak beberapa baris yang ditulis, tapi kemudian dicoret berulang kali. Lagi dan lagi. Begitu berulang-ulang. Si penulis puisi sepertinya mengalami sejuta kebimbangan. Kata-kata yang telah dirangkai terus-menerus dicoret, menandakan ia sedang kalut bagaimana mengungkapkan pikirannya. Lalu, di bagian terakhir, hanya tertulis:

Ketika kau dan aku
Satu. . . .

Ungkapan yang paling sederhana, namun yang paling kuat menunjukkan perasaan cinta yang ada! Seren terdiam beberapa saat. Ia merasakan gelombang sensasi. Ia melihat si pegasus. Ia melihat si gadis suci. Dan ketika pegasus mengepakkan sayapnya. . . .
Seren bangkit tergesa-gesa. Setengah berlari, ia melesat ke studionya. Ia harus melukis mereka! Lukisan itu harus besar. Kanvas yang berukuran 128 x 85 cm itu masih kosong, dan di sanalah ia akan melukis mereka.



vivi
Pemenang harapan Cerber femina 2003